WELCOME TO MY BLOG
Showing posts with label liga Inggris. Show all posts
Showing posts with label liga Inggris. Show all posts

Monday, April 11, 2016

Leicester City, Sebuah Dongeng Sepakbola

Image result for klub Leicester City

Leicester City diambang juara setelah menundukkan Sunderland 2-0. The Foxes, julukan Leicester City, duduk nyaman di puncak klasemen dengan 72 poin, unggul 7 poin dari Totenham Hotspur. Mereka hanya butuh tiga kemenangan lagi, dari lima pertandingan tersisa, untuk merengkuh gelar juara liga Inggris pertama kalinya sepanjang sejarah klub ini, yang telah berumur 132 tahun. 

Tidak ada yang menduga Leicester City akan mampu merambah papan atas Liga Inggris. Klub-klub yang diunggulkan masihlah muka lama, seperti Chelsea sebagai juara bertahan, Arsenal, MU, M. City dan Liverpool. Claudio Ranieri, sang pelatih pun hanya punya target bertahan di Liga Primer alias tidak terdegradasi.

Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang. Klub semenjana ini mampu mengungguli klub-klub elit yang selama ini dikenal sebagai "the big five". Salah satu hal yang menarik untuk dicermati adalah gaya bermain Leicester City yang tidak mementingkan penguasaan bola. Secara kolektif mereka menggalang pertahanan dengan sangat baik kemudian melakukan serangan balik untuk menghancurkan musuhnya. Mereka memadukan kecerdikan dan kecepatan dengan tingkat energi yang fantastis. Selain itu, dan yang paling terpenting, mereka memiliki mental juara. Itulah kehebatan Ranieri, tidak hanya pintar memilih pemain dan meracik strategi bertanding, tapi juga berhasil menanamkan "chip" mental juara kepada pemainnya.

Bahkan andaikata Leicester City gagal menjadi juara, mereka tetap akan bermain di Liga Champions musim depan, suatu prestasi yang bagaikan mimpi di siang hari. Bisa merasakan atmosfer liga champions tentu saja impian semua pemain sepakbola.  

Intinya adalah bahwa Leicester City merupakan tim yang bagus. Mereka telah menunjukkan bahwa mereka memiliki semangat dan eneri untuk mengalahkan tim lain tapi mereka juga menunjukkan diri bahwa para pemain mereka pun sangat bagus. Semua pemain dari pertahanan ke lini tengah dan lini depan. Ini adalah tim yang baik dengan pemain bagus yang mampu mengukir sejarah di musim ini. Leicester City, sebuah dongeng sepakbola!!


Sunday, February 7, 2016

Preview : Chelsea vs Man.United

PREVIEW Liga Primer Inggris: Chelsea - Manchester United
Chelsea boleh saja terpuruk musim ini namun mereka punya catatan bagus saat bertemu United, dengan mereka tidak terkalahkan di enam laga liga terakhir melawan Setan Merah.
Chelsea mendapati musim buruk di gelaran kali ini dan hal itu menyebabkan Jose Mourinhokehilangan pekerjaannya. Akan tetapi, mereka belum lagi merasakan kekalahan sejak ditukangi Guus Hiddink, yang kini bakal membawa timnya menghadapi Manchester United dalam lanjutan Liga Primer Inggris matchday ke-25 di Stamford Bridge, Minggu (7/2) malam WIB.
Siaran Langsung
Minggu, 7 Februari 2016
23:00 WIB


Seperti diketahui, duel ini selalu menyajikan intrik menarik selama sedekade terakhir, dan hal itu bisa diharapkan untuk pertandingan nanti sebagaimana The Blues memiliki catatan tidak terkalahkan dalam enam pertemuan terakhir di liga melawan Setan Merah.
Dari kubu tamu, United arahan manajer Louis van Gaal memiliki rekor buruk saat melawat ke kandang Chelsea. Dalam 13 kunjungan terakhirnya di kompetisi kasta tertinggi di Inggris, mereka hanya bisa memetik satu kemenangan dengan delapan lainnya berakhir kekalahan, dan empat sisanya berujung hasil imbang.
Pertemuan ini juga menjadi pertarungan seru antara Hiddink dan Van Gaal, yang sudah sejak lama bersaing untuk mendapatkan status sebagai juru taktik terbaik asal negaranya.
Adapun, kemenangan terakhir Van Gaal atas Hiddink ia raih ketika membawa Barcelona menang 3-0 atas Real Madrid pada 1999. Namun Hiddink secara tak terduga sukses membekuk kawannya tersebut saat melatih Real Betis, dengan ia mengantar timnya meraih kemenangan 2-1 atas tim Barcelona yang dipimpin Van Gaal pada 2000.
Rivalitas keduanya terus berlanjut, namun Hiddink membuktikan dominasinya atas Van Gaal dengan mencatatkan tiga kemenangan beruntun di laga PSV melawan AZ dalam rentang waktu lima bulan antara Oktober 2005 dan Maret 2006.
Dua sosok asal Belanda itu memperbarui rivalitasnya dengan hasil imbang 0-0 di Old Trafford ketika Hididnk memulai periode keduanya di Chelsea pada akhir tahun kemarin, dan jelang pertemuan nanti pria 69 tahun itu enggan membahas rivalitasnya dengan kompatriotnya tersebut.
“Kita tidak boleh melebih-lebihkan peran manajer dan pelatih – mereka mempersiapkan laga dan [mengamati] lawan serta gaya bermain apa yang diinginkan. Hanya itu,” demikian Hiddink.
“Pada akhirnya para pemain harus mengeksekusi apa yang dilakukan di tempat latihan dan saat pertemuan tim. Kami tidak boleh melebih-lebihkan pertarungan antarmanajer. Ini adalah pertarungan antarpemain.
“Ini adalah laga besar. Keduanya merupakan klub besar, baik Manchester United dan kita bersaing demi trofi. Mereka memang tampil di bawah performa namun perlahan mulai kembali ke jalurnya.”
Chelsea sejauh ini menang dua kali dan bermain imbang lima kali dalam tujuh laga Liga Primer di bawah komando Hiddink, dan ia bertekad untuk melanjutkan catatan tidak terkalahkannya tersebut.
“Tentu saja saya ingin mencatatkan lebih banyak kemenangan ketimbang imbang, namun tim ini perlahan demi perlahan menjadi lebih stabil dan kini kami berharap memiliki musim semi yang indah."
Sementara Van Gaal, yang menjabarkan hubungannya dengan Hiddink sebagai “profesional”, mengaku girang dengan performa United kala menumbangkan Stoke City 3-0 pada pertengahan pekan kemarin.
Ia percaya pengulangan performa tersebut bisa menjadikan timnya sebagai penantang gelar, meski kini berjarak 13 poin dari sang pemuncak klasemen Leicester City.
“Saya sudah pernah bilang bahwa hanya Crystal Palace dan Arsenal musim ini yang tampil lebih baik di pertandingan saat melawan Manchester United,” ujar Van Gaal. “Namun kami harus menunjukkannya di pertandingan berikutnya bahwa kami bisa menang. Di kompetisi ini, semuanya adalah mungkin.”
Diego Costa sekali lagi akan memimpin lini penyerangan Chelsea, dengan Radamel Falcao (kunci paha) dan Loic Remy (betis) masih absen.
Penyerang Brasil Alexandre Pato masih belum fit setelah dipinjam Chelsea dari Corinthians, namun winger Pedro kembali berlatih usai mengeluhkan masalah di kunci paha.
Di kubu lawan, lini tengah United sekali lagi tidak akan diisi oleh Bastian Schweinsteiger yang masih terkendala cedera lutut, namun mereka mengharapkan kepulihan dari bek Phil Jones (engkel).
Terlepas itu, Ashley Young (kunci paha), Marcos Rojo (bahu), Antonio Valencia (engkel) dan Luke Shaw (patah kaki) tetap absen dan tidak akan ambil bagian.
 KEMUNGKINAN LINE-UP

CHELSEA




Courtois
Ivanovic, Terry, Zouma, Azpilicueta
Mikel, Matic
Willian, Fabregas, Hazard
Costa
MANCHESTER UNITED



De Gea

Darmian, Smalling, Blind, Borthwick-Jackson
Carrick, Schneiderlin
Lingard, Mata, Martial
Rooney

Siapa Bisa Hentikan Leicester City?

Robert Huth Shinji Okazaki Manchester City v Leicester City - Premier League 02062016
Leicester berhasil menaklukkan satu lagi klub besar. Uniknya, mereka masih menggunakan skema permainan yang relatif sama hingga pekan 25. Siapa bisa hentikan Leicester?

“Jika Anda mengenali lawan dan diri sendiri, Anda tak perlu takut pada hasil akhir dari seratus pertarungan.”
Filosofi klasik tersebut merupakan buah pemikiran Sun Tzu – ahli strategi perang Tiongkok – yang tertulis dalam mahakarya The Art of War. Mungkin terdengar banal karena susunan kalimat yang sederhana, tetapi kalau memaknai kata demi kata dengan tepat, filosofi itu menjadi senjata ampuh. Termasuk dalam pertandingan sepakbola.
Claudio Ranieri merupakan salah satu contoh suksesnya. Terlepas dari apakah ia membaca karya Sun Tzu atau tidak, pria yang dijuluki Tinkerman itu menerapkan filosofi klasik tersebut dalam menghadapi pertarungan demi pertarungan di Liga Primer Inggris. Singkatnya, ia mengenali kelemahan dan kekuatan Leicester City, sekaligus memahami kekuatan dan kelemahan setiap lawan.
Korban terkini dari ramuan Ranieri ini adalah Manchester City, klub kaya raya yang berisikan pemain-pemain bintang dengan harga selangit. Kalau dilihat dari harga skuat, sudah pasti The Foxes kalah jauh. Meski begitu, Ranieri tidak gentar dan dengan cermat menganalisis kelemahan lawan sembari tetap memegang teguh kekuatan timnya – tanpa melakukan banyak perubahan.
Hasil akhirnya? Kemenangan telak 3-1 di Etihad Stadium, markas Man City, dan kini unggul lima poin di puncak klasemen.
Pertama, Leicester menegaskan ketangguhan mereka dalam menjaga struktur pertahanan yang sempit. Mereka mencegah bola masuk melalui jalur tengah dan siap menghalau musuh yang berusaha mendribel bola lewat tengah. Bukan hanya dua bek yang bertugas menjaga, melainkan ada duo tangguh N'Golo Kante dan Daniel Drinkwater yang siap menekan dan mempersemput jalur di tengah.
Hal ini kiranya berkebalikan dengan skema serangan Manuel Pellegrini. Seperti diketahui, juru taktik asal Cile itu hobi bermain terbuka dengan memanfaatkan umpan-umpan pendek. Daya ledak serangan mereka sudah tak perlu diragukan, apalagi dengan dua inverted winger yang siap menusuk ke kotak penalti dari kedua sisi. Umpan terobosan lewat tengah pun menjadi andalan dengan adanya Sergio Aguero yang selalu berkeliaran mencari celah.
Sayangnya filosofi eksplosif Man City itu menghadapi anti-tesisnya ketika berhadapan dengan Leicester. Rentetan umpan Man City yang mencoba menembus lini tengah Leicester berujung hampa, seperti melempar bola ke dinding tanpa celah. Setiap serangan City dipantulkan, gagal menembus kotak, tercermin dari banyaknya tembakan (22) tetapi sedikit yang terarah (4).
Kedua, kerja keras bagai kuda merupakan kekuatan Leicester yang lainnya. Dalam pertandingan tadi malam, mereka bahkan mencatatkan 4,5 km jarak lari lebih jauh dari Man City. Ampuhnya lagi, ini diimbangi dengan akurasi dan presisi yang dimainkan oleh para pemain, khususnya Kante dan Drinkwater yang tampil luar biasa di Etihad.
Dua gelandang tersebut sebenarnya kalah jumlah kalau melihat formasi 4-4-2 Leicester melawan 4-2-3-1 Man City. Namun Kante dan Drinkwater membuktikan kualitas mereka dengan mematikan pergerakan Fabian Delph, Yaya Toure, Fernandinho, David Silva, dan Raheem Sterling. Kante sendiri saja sudah mencatatkan delapan tekel dan lima intersepsi dalam pertandingan ini, menunjukkan betapa garangnya gelandang berkebangsaan Prancis tersebut.
Itu baru melihat dua gelandang tengah Leicester. Kalau melihat pergerakan pemain seperti Christian Fuchs, Marc Albrighton, Riyad Mahrez, dan Jamie Vardy, tanpa perhitungan kalkulator, di televisi Anda sudah bisa menyaksikan seberapa hebat daya kerja Leicester. Mereka terus berlari nyaris sepanjang laga untuk mengklaim bola, sembari menjaga struktur pertahanan mereka.
Ketiga, ini merupakan senjata mematikan yang selalu dimanfaatkan oleh Leicester untuk membobol gawang lawan: counter attack. Serangan balik merupakan senjata mematikan Leicester musim ini. Liverpool sudah merasakannya langsung – kebobolan dua gol dari serangan balik – sebelum Man City. Di Etihad, mungkin hanya satu gol yang tercipta langsung dari serangan balik, tetapi dua gol lain yang bermula dari bola mati juga tadinya dibangun oleh serangan balik yang skematik.
Skema serangan balik Leicester ini sejatinya cuma itu-itu saja, tetapi langkah mereka hingga saat ini belum terhenti dan itu membuktika seberapa efektif ramuan Ranieri. Kurang lebih begini ramuannya: Albrighton disiplin di sayap kiri, Vardy berkeliaran mencari celah, Mahrez diberi sedikit kebebasan untuk menusuk, sementara Shinji Okazaki menciptakan celah. Kombinasi tersebut sejauh ini sudah menghasilkan 16 gol untuk Leicester.
Seandainya buntu, akan ada ramuan lain, yakni Drinkwater memberikan bola dari tengah lapangan kepada Vardy, atau Kante melepaskan umpan terobosan untuk Mahrez atau Vardy. Malang bagi Man City, semua skema tersebut berjalan efektif di Etihad dan walau tidak secara langsung membuahkan gol, mereka menghujani gawang City dengan gempuran monoton sekaligus layak ditonton.
Ya, skema serangan balik Leicester memang monoton dan mudah dibaca, tetapi sejauh ini klub-klub Liga Primer sulit mengantisipasinya. Dua manajer terkemuka seperti Jose Mourinho dan Jurgen Klopp bahkan mengakui hal tersebut.
“Saya merasa kerja saya dikhianati,” ungkap Mourinho sebelum dipecat. “Saya bekerja empat hari dalam sesi latihan untuk pertandingan ini. Saya mengidentifikasi empat pergerakan di mana Leicester mencetak sebagian besar gol mereka dan dalam dua dari empat situasi yang saya identifikasi, saya menemukan bagaimana mereka mencetak gol.”
Sementara itu, Klopp mengungkapkan hal senada sebelum kalah 2-0 dari Leicester, “Kami semua tahu tentang kualitas mereka, terutama lawan selanjutnya Leicester dan konsep gamblang tentang permainan mereka. Gaya bermain mereka sangat jelas. [Namun] sulit untuk menghadapinya, seperti yang dirasakan sebagian besar tim Liga Primer ketika menghadapi mereka."
Gaya dan skema permainan Leicester memang mudah dibaca, tetapi sejauh ini mereka menjadi kekuatan yang belum terhentikan. Alasannya sederhana, karena Ranieri tidak sekadar memanfaatkan kekuatannya, tetapi mempelajari kelemahan lawan dan menunggu lawan menunjukkan kelemahan mereka.
Tadi malam, mereka kembali menunjukkan hal itu kepada Man City. Tak hanya memanfaatkan pertahanan rapat, pressing ketat, dan serangan balik cepat, mereka juga melihat di mana Martin Demichelis serta Nicolas Otamendi sering melakukan kesalahan. Silahkan tonton cuplikan pertandingan semalam dan tonton bagaimana Ranieri memanfaatkannya dalam tiga gol Leicester.
Leicester pelan-pelan menjawab semua keraguan dari para pundit. Inkonsistensi? Sudah mereka jawab dengan total 15 kemenanan. Intensitas lari bakal menyurutkan permainan? Rata-rata berlari mereka masih 110,7 km per pertandingan. Kesulitan lawan klub besar? Chelsea, Tottenham, Liverpool, dan Man City sudah mereka benamkan.
Satu-satunya hal yang mungkin mengganjal mereka adalah faktor cedera, tetapi sejauh ini Ranieri mampu mengatur hal tersebut sampai-sampai hanya diganggu 15 kali cedera, bandingkan dengan Arsenal (22), Tottenham (28), dan Manchester United (40). Adapun sang manajer tetap waspada dan tidak besar kepala, menyebut Leicester bukan sebagai kandidat juara Liga Primer Inggris.
Tapi kalau melihat makna yang tersembunyi, Ranieri sekaligus melemparkan pertanyaan sekaligus tantangan bagi klub-klub Liga Primer: Siapa bisa hentikan Leicester?

Friday, February 5, 2016

Preview : Manchester City vs Leicester City

Manchester City akan mencoba menghentikan kisah dongeng Leicester City ketika dua tim teratas EPL ini bentrok di Etihad Stadium.

Kisah dongeng Leicester City di musim ini belum berakhir. Dengan materi skuat seadanya dan sama sekali tidak diunggulkan, siapa sangka Leicester kini masih menguasai tampuk klasifika Liga Primer Inggris hingga memasuki pekan ke-25 ini.
Siaran Langsung
Sabtu, 6 Februari 2016
19:45 WIB 

Bersama sang nahkoda Claudio Ranieri, The Foxes dibawanya menuju konsistensi performa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kini, siapa tak kenal Jamie Vardy, Riyad Mahrez, N’golo Kante, Daniel Drinkwater yang namanya di musim lalu mungkin hanya sayup-sayup terdengar.  
Namun, Leicester mendapat tantangan mahasulit ketika melawat ke Etihad Stadium, Sabtu (6/2) malam WIB esok, untuk menghadapi Manchester City, tim kaya bermaterikan pemain bintang yang hanya berjarak tiga poin di bawah mereka.
Jelang duel yang berpotensi menentukan klasemen final di akhir musim, Ranieri sekali lagi mendinginkan kans juara timnya dengan menyebut bahwa City lebih diunggulkan ketimbang Leicester karena memiliki “para pesulap” dalam diri Sergio Aguero, David Silva, hingga Yaya Toure.
“Penting untuk memastikan fans kami terus bermimpi. Kami tahu ini laga yang sangat sulit, tetapi laga-laga berikutnya juga sama sulitnya. City ingin menang, begitu halnya dengan kami, maka ini akan menjadi laga yang terbuka,” kata Ranieri.
“Tapi, City memiliki terlalu banyak pemain yang berbahaya. Kami mungkin bisa menampilkan laga sesempurna mungkin, tetapi City tetap yang akan menang karena mereka memiliki para pesulap!” tutur manajer berjuluk The Tinkerman itu.
Kendati begitu, Leicester tak lantas minder menghadapi sang tuan rumah. Pasalnya, The Foxespunya pesulapnya sendiri yang di musim ini telah melakukan sesuatu yang lebih besar ketimbang sekumpulan pesulap mahal milik City tersebut. Ya, dialah Jamie Vardy, striker andalan mereka yang ibarat telah membuat mukjizat.
Vardy adalah jelmaan nyata pepatah populer from zero to hero. Dari pemain amatir lima tahun lalu, kini ia mampu memuncaki daftar topskor Liga Primer dengan 18 gol! Mukjizat terbaru Vardy terjadi tengah pekan lalu ketika ia mencetak gol voli sensasional dalam kemenangan 2-0 atas Liverpool.
“Dia adalah pemain top yang sedang dalam puncak performa akhir-akhir ini. Tetapi kami siap untuk menghentikannya,” ujar kiper City, Joe Hart, yang berharap Vardy dapat diredam seperti saat duel pertama di King Power Stadium yang berakhir 0-0, akhir Desember lalu.
Sementara itu, City terus menunjukkan tekad kuat untuk menjadi klub top Inggris dan Eropa seiring mereka kini masih belum tersingkir di seluruh keempat ajang yang diikuti. Penunjukan Pep Guardiola sebagai manajer mulai musim depan menjadi bukti betapa ambisiusnya The Citizens.
Kendati prospek bersama Guardiola terlihat menjanjikan, City harus fokus dengan kondisi saat ini sebagaimana diungkapkan oleh manajer Manuel Pellegrini. “Masa depan saya adalah masa kini. Saya mencoba untuk menang dan fokus di laga berikut. Melawan Leicester di kandang sendiri, kami ingin menang dan menguasai puncak klasemen sebelum mengakhiri musim sesukses mungkin,” umbar Pellegrini.
Namun, City sedikit pincang dengan banyaknya cedera di skuat mereka seperti Kevin De Bruyne, Fabian Delph, Vincent Kompany, Eliaquim Mangala, Samir Nasri, Jesus Navas, dan Wilfried Bony. Badai cedera ini membuat Pellegrini kemungkinan akan menduetkan Kelechi Iheanacho dan Aguero di lini depan.
Sementara itu, Leicester praktis berada dalam kekuatan penuh setelah hanya kehilangan Jeffrey Schlupp dan Matthew James yang cedera. Selain itu, pemain anyar Daniel Amartey, yang baru saja direkrut dari Copenhagen, berpeluang menjalani debutnya di Etihad.

Thursday, June 25, 2015

Firmino-Coutinho, Duet Maut Liverpool


Legenda sepak bola Brasil, Ronaldinho, menilai Roberto Firmino adalah solusi bagi masalah ketajaman lini penyerangan Liverpool. Menurut dia, bersama Philippe Coutinho, Firmino bakal sukses di Anfield.

Melalui situs resminya, Rabu (23/6/2015), Liverpool mengumumkan kesepakatan dengan Hoffenheim terkait proses transfer Firmino. Pemain berusia 23 tahun itu akan menjalani tes medis setelah perhelatan Copa America 2015 berakhir.

"Bagi Liverpool, memiliki Coutinho dan Firmino adalah pencapaian besar bagi mereka. Ini akan membuat mereka mempunyai gelandang-gelandang hebat di Eropa," ujar Ronaldinho.

"Kreativitas, kepintaran, serta naluri gol yang mereka punya bakal mengubah Liverpool. Ini adalah perekrutan yang bagus. Dengan memiliki dua gelandang ini, Liverpool berpeluang besar lolos ke Liga Champions musim depan."

"Ini juga akan menjadi mimpi bagi para penyerang Liverpool. Mereka (Firmino dan Coutinho) bakal menciptakan banyak peluang," tambahnya.

Menurut catatan Transfermarkt, dari 34 laga Bundesliga yang dilakoni Hoffeinheim musim ini, Firmino bermain 33 kali, dengan menorehkan tujuh gol dan 10 assist. Secara keseluruhan, semenjak bergabung pada 2011, Firmino mencetak 48 gol dan 36 assist dari total 152 pertandingan.

Tuesday, June 23, 2015

30 Juta Euro & David De Gea Untuk Sergio Ramos?

Manchester United kabarnya siap mengeluarkan dana besar mendapatkan Sergio Ramos dari Real Madrid.
Sergio Ramos kabarnya siap meninggalkan Real Madrid dan Manchester United juga siap menebusnya dengan harga mahal.
Menurut laporan AS, Manchester United mempersiapkan dana 30 juta euro dan David De Gea untuk bisa mendapatkan bek tengah tim nasional Spanyol itu. Total nilai kesepakatan sekitar 70 hingga 75 juta euro.

Ramos sendiri akan mendapatkan kontrak dengan nilai kesepakatan mencapai 12 juta euro, dua kali lipat jumlah yang didapatnya di Madrid.

Namun, seperti ditambahkan AS, belum ada kontak langsung dilakukan United. Sejauh ini negosiasi tahap awal masih melalui pihak ketiga.